Sewindu Lagi
Berada di bidang yang sama dalam
suatu kepanitiaan dengan mantan itu merupakan salah satu ujian hidup.
Setidaknya itulah yang ku catat di otakku. Ya, aku berada di bidang dokumentasi
dalam kepanitiaan pensi bersama dengan Farris; pacar yang baru saja putus 3
bulan yang lalu.
“Wow. Bisa-bisanya Ari nempatin
kalian di bidang yang sama” celetuk Rizka, yang menemaniku menatap papan
pengumuman sekolah.
“Mereka butuh kamera gua dan butuh
desainnya Farris. Ya, gua bisa apa? Lu tau sendiri kalo gua pengen jadi
dokumentator di kepanitiaan kan? Jadi, baiklaaah, welcome to the reality, Ra!”
ucapku sambil membentangkan tangan. Rizka buru-buru menurunkannya.
“Galau bener, sih, Mbak! Udah ah,
ayo buru balik!” Rizka menarik lenganku menuju gerbang sekolah. Aku jadi
berpikir. Apa, ya, reaksi Farris saat tahu kalau dia harus bekerja denganku?
Senangkah? Kesalkah? Malaskah? Atau…sepertinya dia tidak peduli. Sudahlah,
lagipula apa urusanku yang cuma mantannya? Ya, oke, mantan.
Dan pulang sekolah hari ini bukanlah
saat yang ku nantikan mengingat semalam aku mendapat sms jarkoman dari Ari.
Entahlah, aku tidak tahu apa aku menginginkan pertemuan dengan Farris; rapat
maksudku. Sekarang pukul 13.35, 25 menit lagi rapat dimulai. 25 menit lagi, aku
akan duduk dekat Farris. Oke, aku akui kalau aku deg-degan. Apa Farris merasa
begitu? Semakin aku memikirkannya semakin aku merasa…deg-degan. Rizka kemana,
sih? Aku benar-benar butuh teman sekarang.
Dari radius 50 meter, aku seperti
melihat Farris berjalan ke arahku. Oh, mungkin lebih tepatnya ke arah ruang
rapat yang berada di belakangku. Aku mencoba bernapas normal dan menghentikan
gemuruh di dadaku. Semakin dekat Farris berjalan, aku berpikir dia hanya akan
berjalan melewatiku begitu saja. Tapi aku salah.
“Ra, gak ke dalem?” tanyanya datar.
Ya, Tuhan, matanya…
“Ngga, nunggu Rizka” jawabku
sekedarnya. Lebih datar dan dingin. Mulut Farris hanya membentuk huruf ‘O’ dan
berjalan masuk. Aku mengutuk diriku sendiri yang kelewat salting di depannya.
Kenapa harus jutek, Ra?
“Heh, maaf ya lama. Tadi gua disuruh
beliin Aqua dulu sama Bu Melani” Rizka datang secara tiba-tiba.
“You should know what happened
before…” ucapku dengan wajah memelas. Rizka menatapku bingung sejenak, lalu
tertawa.
“Hahaha, ini baru awal. Masih ada 2
minggu lagi, coy!” Rizka sama sekali tidak membantu. “Yuk, absen” Rizka menarik
lenganku. Saat kami masuk, di dalam sudah cukup ramai. Setidaknya 70% panitia
sudah hadir di ruangan.
“Duduknya per bidang ya, soalnya
rapat pembukaan paling cuma 15 menit terus ntar dilanjut rapat bidang” kata
Laras si sekretaris. Aku menghela napas berat, sedangkan Rizka mengangguk
paham.
“Selamat berjuang, Ra! Semangat!
Haha” Rizka langsung meninggalkanku begitu saja menuju teman-teman humasnya.
Sedangkan aku langsung melihat Farris. Duh, radarku ini benar-benar, ya… Aku
berjalan menuju tempat Farris duduk. Aku berharap aku duduk dengan siapa saja
yang bukan Farris. Sialnya, karena aku datang terakhir di bidangku, aku harus
duduk di sebelah Farris. Farris tidak berkomentar apapun saat aku duduk. Tidak
menyapa juga. Ya, apa yang bisa aku harapkan setelah aku bersikap jutek
padanya… Farris sedang mengobrol seru dengan Fira, anak bidang konsumsi. Aku
pura-pura sibuk bermain game sambil sesekali menguping obrolan mereka. Gak
mutu, sih, obrolannya. Tapi, mereka terlihat sangat asyik. Membuatku sedikit
iri.
“Ya, selamat siang dan selamat
datang di rapat perdana Pensi 2014. Semua hape tolong dimasukkan ke tasnya
masing-masing dulu. Saya, Ari Prakasa, selaku ketua pelaksana sebelumnya ingin
mengucapkan terima kasih…” Ari berdiri di hadapan kami dan menjelaskan secara
singkat tugas umum setiap bidang. Kemudian dia juga mengumumkan koordinator
bidang. Ya, mana mungkin aku jadi koordinator bidang. Aku duduk saja dengan
manis, menunggu untuk tahu siapa koordinator bidangku. “… Bidang dokumentasi
dikoordinir Serranian Zara…” Ooh, yang jadi co-ku si Serra.
“Ra, lu gak maju?” Farris menatapku
bingung.
“Maju? Ngapain?” tanyaku heran.
“Koordinator kan disuruh maju” ujar
Farris.
“Emang siapa co kita? Ser…ra? Hah?
Gua co?” ucapku panik, membuat seisi ruangan menoleh padaku bingung.
“Ayo, Ra, maju aja” ucap Ari sambil
tersenyum penuh arti. Setengah shock, aku tetap maju dan berdiri bersama koordinator
bidang lain. Aku masih tidak habis pikir, kenapa aku? Kenapa bukan Farris, atau
Keisya, atau Sam? Kenapa aku?
“… Jadi, setelah ini silakan rapat
masing-masing bidang. Untuk para koordinator bidang, dipersilakan kembali ke
tempatnya masing-masing” Ari menutup rapat pembuka hari ini. Aku segera kembali
ke tempat duduk sambil bingung.
“Ayo, Ra, kita mulai” kata Farris
mengingatkan. Aku menghela napas. Takdir macam apa ini? Sebidang dengan Farris
sekaligus menjadi co-nya. Setelah aku sadari, bidang dokumentasi hanya
berjumlah 6 orang termasuk aku.
“Well, hai. Gua gatau kenapa gua
ujug-ujug jadi co. Tapi gua dari lubuk hati paling dalam pengen bilang kalo gua
sangat butuh bantuan kalian. Gua juga gak ngerti apa-apa masalah desain. Jadi,
disini, siapa aja yang bisa desain?” tanyaku. Syukurlah, mereka berlima bisa.
Apa? Mereka semua bisa? “Oh, ternyata cuma gua yang gak bisa di sini. Kalau
gitu, kita bagi tugas aja…” Aku berusaha membagi tugas. Banyak desain yang
harus dikerjakan. Selain itu, aku juga memastikan kamera dan memori yang kami
miliki. Syukurlah (lagi), masing-masing punya kamera dan memori yang cukup.
Ternyata aku berada di tim yang sudah professional. “Oke, kita kumpul 3 hari
lagi, gua harap desain udah jadi dan kita bisa ngefixin langsung desainnya. By
the way, gua minta nomor hape kalian semua, dong. Tulis di sini ya” Aku
menyerahkan secarik kertas dan pulpen. Mereka menuliskan masing-masing.
Termasuk Farris. Aku melupakannya sesaat karena kepanikan menjadi co bidang.
Setelah itu, mereka langsung pulang. Kecuali Farris.
“Ra,” panggil Farris saat aku hendak
pulang. Mana bisa aku tetap berada di sebelah Farris dan bersikap biasa saja…
“Kenapa?” tanyaku. Aku masih mencoba
terlihat normal. Mencoba melihat ke wajah Farris. Aku merindukannya, sungguh.
“Lu pantes kok jadi co. Jangan
ngerasa lu gak bisa. Lu gak kerja sendirian di sini” Farris menatapku, kemudian
tersenyum. Saat aku membeku, berusaha mencerna ucapannya, dia beranjak dari
tempat duduknya dan pergi. Farris memang memahamiku. Aku pun tersenyum dan
sebisa mungkin mengingat selalu ucapannya sambil berjalan keluar ruangan.
2 hari setelahnya, aku mengirim sms
untuk mengingatkan kumpul besoknya. Ah, ini sudah 1 minggu sejak aku tidak
smsan dengan Farris. Ya, begitulah, smsan dengan Farris itu musiman. Kalau
mood, kalau ada perlu, kalau ada cerita. Setelah mengirimkan kepada semua
anggota, aku membaca ulang isi smsan ku dengan Farris. Beberapa kali aku
tersenyum sendiri membacanya. Sayang sekali, aku sudah menghapus semua smsnya
sebelum putus. Aku berpikir waktu itu memang semua harus dimulai dari awal
lagi. Aku berteman dengannya di awal, jadi aku harus tetap berteman dengannya
pada awal yang baru. Duh, perasaan macam ini datang lagi. Setiap kali begitu,
aku selalu mengetik apa yang ku rasakan, tanpa mengirimnya. Atau sekedar
mengirim pesan di twitter dan facebook-nya yang sudah tidak aktif. Kali ini aku
mengulanginya lagi. Jemariku mengetikkan ‘Ris, Serra kangen Farris’ dan ketika
aku hendak menekan ‘Back’, yang terjadi adalah ‘Send’. Ini kebodohanku yang ke
berapa? Aku bingung apa aku harus mengetik ‘Maaf, Ris, kepencet’ tapi tetap
saja dia tahu aku kangen. Kalau aku tidak mengkonfirmasi, dikira aku gak tau
diri. Daripada aku kesal sendiri, aku langsung mematikan hape dan tidur. Besok,
mau ditaro di mana mukaku???
Aku berjalan gontai saat masuk
kelas. Rizka siap menyambutku dengan sejuta pertanyaan. Ngomong-ngomong, Farris
tidak membalas sms dariku semalam; atau paginya. Padahal dia on twitter sampai
larut malam. Sepertinya dia malas dan risi membaca smsku. Biarlah nanti saja
aku minta maaf setelah rapat.
“Kenapa lu… ah, udahlah” Tuh.
Bahkan, seorang Rizka pun tidak bisa memberi komentar apapun mengenai
kebodohanku. “Lu bersikap biasa aja nanti pas ketemu”
“Ya, emang gua mau ngelakuin apa
lagi? Ntar gua minta maafnya langsung deh” ucapku. “Semoga aja gua gak ketemu
dia sebelum rapat. Antara malu dan…gitulah”
“Ra, gua mau nanya deh sama lu.
Perasaan lu ke Farris tuh gimana sih sebenernya? Gua tau kalo lu belom move on,
tapi, perasaan macam apa yang lu punya?” tanya Rizka. Menohok.
“Gua gatau. Gua masih deg-degan dan
panik kalau ngeliat dia. Gua masih suka flashback. Mungkin gua masih sayang,
meskipun dia ngga” jawabku sekenanya. Aku terlalu pusing bertanya pada diriku
sendiri maunya apa dan bagaimana.
“Well, why don’t you ask?” tanya
Rizka. Aku langsung menatapnya. Berpikir. Ada benarnya. Ya, tidak perlu
balikan. Aku hanya sebatas ingin tau yang dia rasakan, agar aku bisa kontrol
diriku sendiri.
“Kalau gua udah siap nanya” Aku
menatap kosong. 15 menit kemudian, aku sudah membuat keributan di kelas dengan
nyanyianku yang out of tones. I don’t care.
Jam pulang sekolah sudah tiba. Aku
akan segera bertemu dengan Farris. Seharian aku tidak keluar kelas kecuali ke
wc. Jadi, aku tidak sekalipun melihat atau bertemu dengan Farris. Saat aku
menuju kantin; tempat kami janji berkumpul; baru ada Farris di sana. Baiklah,
lebih baik aku bicara padanya dulu sebelum yang lain datang. Farris tampak
sibuk dengan laptopnya tanpa sama sekali menghiraukan kehadiranku.
“Hai, Ris. Yang lain kok belum
dateng?” tanyaku. Mencoba normal.
“Gatau, belum bubaran semua kali”
jawabnya datar.
“Ris. Lagi sibuk ngapain? Gua pengen
liat desain lu dong” pintaku.
“Nanti aja bareng yang lain biar gua
jelasinnya gak dua kali” jawabnya datar (lagi).
“Oh, oke” Kemudian hening. Bagaimana
ini? Apa aku minta maaf sekarang? Oke, 1… 2… 3… “Ris gua minta maaf yang
kemaren. Gua gatau kalo itu bakal ke send. Kebetulan aja gua lagi baca-baca sms
kita dulu terus gua ngerasa begitu jadi gua ketik. Eh, malah kepencet. Maaf”
ucapku dengan cepat.
“Iya” jawabnya singkat. Udah? Gitu
doang jawabnya? Berhubung aku yang minta maaf, aku tidak akan protes apa-apa
padanya. Sebelum keheningan ini benar-benar menyiksaku, anggota lain akhirnya
berkumpul dan rapat kecil bisa dimulai. Masing-masing memberikan penjelasan desain
dan diskusi ini berjalan hidup. Beberapa mengajukan ide baru yang langsung
diaplikasikan dan Voila! This is it! Semua desain sudah selesai dengan sempurna
dan; menurutku; kece badai.
“Makasih ya, kalian. Desainnya bagus
banget. Besok atau lusa ada yang bisa ke percetakan?” tanyaku takut-takut. Aku
tidak mengerti apa-apa tentang ini. Jadi maklumi saja.
“Biasanya gua kok, Ra, yang ke sana.
Tapi lusa bisanya. Duitnya udah cair belom? Minimal buat DP mah udah ada gitu”
kata Sam. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Kata Ari, uangnya turun besok. Sekalian
gua mau ngasih tau Ari hasil desainnya. Jadi besok gua langsung kasih uangnya
ke lu dan lusanya lu langsung ke percetakan” ujarku. Mudah sekali menjadi co…
“Oke, Ra. Gua tunggu besok” kata
Sam.
“Oya, Ra. Kayaknya kalo kamera cuma
ada 6 terlalu pas-pasan deh. Maksudnya kan kita masing-masing bakal megang
satu. Terus kalau baterenya habis kan berarti harus ada cadangan kamera kan?”
tanya Keisya.
“Kalau cadangannya 3 cukup gak, Sya?
Pas lagi make kamera cadangan, yang abis di charge dulu” tanyaku. Keisya
mengangguk. “Ada yang punya kamera 2? Mau digital atau slr sama aja kok. Gua
ada satu”. Aku melihat Keisya dan Bella mengacungkan jari. Sudah selesai
tugasku. Tinggal membeli name tag, menunggu hasil cetakan dan memasangnya, lalu
kerja pada hari-H. Syukurlah… “Kalau gitu sampai di sini aja dulu rapatnya.
Nanti tolong kabarin gua kalo banner, name tag, dan lainnya udah jadi. Paling
kita kumpul lagi H-3 setelah rapat besar. Makasih semuanya” Seperti kemarin, tertinggal
aku dan Farris. Tanpa pembicaraan apapun kali ini. Tanpa senyum di wajah Farris
maupun wajahku. Aku langsung saja pulang tanpa pamit padanya. Entah kenapa,
hatiku sakit sendiri melakukannya.
Setelah 5 hari berjalan tanpa ada
kumpul sama sekali, aku setengah sedih setengah bersyukur. Aku hanya sesekali
papasan dengan Farris, dan dia hanya melewatiku begitu saja. Aku pun tidak
pernah berusaha menyapa duluan. Hari ini H-3 acara Pensi dan ada rapat besar.
Hari ini juga semua hasil cetakan bisa diambil.
“Ra, setelah rapat kecil itu lu jadi
betean mulu orangnya. Udahan dooong, jadi gak seru kalo gua nyanyi lunya diem
aja” kata Rizka.
“Maaf, Riz… Ah, nyebut nama depan lu
mengingatkan gua. Maksud gua maaf ya, Ka…” kataku tanpa semangat.
“Kayaknya lu harus ngobrol serius deh
sama dia, Ra. Gak bisa lah kalo lu jadi gak semangat hidup gini cuma gara-gara
dicuekin sama dia” kata Rizka sewot. “Pokoknya harus ngobrol”
“Iya… Yaudah, yuk, ke ruang rapat.
Kita udah telat” ajakku mengalihkan pembicaraan. Aku merasa tidak punya cukup
keberanian untuk bicara. Tapi…kalau menulis?
“Rapatnya udah mulai. Kalian telat”
kata Laras saat kami absen.
“Iya tadi kita udah bilang Ari kalau
wali kelas kita masuk dulu abis jam pulang” ujar Rizka menjelaskan. Saat masuk
ke ruang rapat, semua mata tertuju pada kami.
“Akhirnya kalian dateng, gini
teman-teman, tadi wali kelas mereka masuk kelas setelah jam pulang dan mereka
udah izin ke saya” kata Ari dengan wibawanya. “Rizka boleh langsung duduk,
kalau Serra, berhubung sekarang lagi dalam rangka penjabaran hasil kerja, jadi
silakan mewakili bidang dokumentasi menjelaskan sekarang” Ari memberikan senyum
manisnya. Sial. Baru juga datang ke sini, langsung disuruh bicara. Mau tidak
mau aku langsung memberikan penjelasan tentang apa yang sudah kami; tim
dokumentasi; kerjakan tanpa persiapan. Setelah itu aku duduk, di sebelah
Farris. Rapat hari ini berlangsung lumayan lama, jadi ku rasa, lebih baik besok
saja memasang semuanya.
Sesampainya di rumah, aku teringat
perihal menulis. Setelah mandi dan makan malam, aku langsung mengambil kertas
dan pulpen. Awalnya aku tidak tahu harus menulis apa dan memulai dari mana.
Tapi akhirnya tanganku bergerak sesuai perintah hati dan tidak ku sangka aku
menangis. Ini benar-benar luapan emosiku yang tidak pernah aku utarakan kecuali
dalam doaku. Selesailah sudah, curahan hati dalam 2 lembar hvs. Ini seperti
lomba mengarang saja…
H-2 acara Pensi. Aku, Keisya, dan
Bella sibuk memasukkan kertas name tag ke tempatnya, sementara Farris, Sam, dan
Rei memasang banner. Setelah selesai semuanya, aku menyuruh mereka semua pulang
karena hari juga sudah malam. Beberapa panitia bidang lain masih sibuk di dalam
aula untuk dekorasi. Terlihat Farris yang masih beres-beres tasnya. Aku
langsung menghampirinya.
“Ris, ini ada kertas. Maaf gua
pengen ngomong tapi gua gabisa. Jadi gua nulis di situ” Setelah menyerahkan
suratnya, aku langsung buru-buru pulang. Apapun itu reaksinya, yang penting aku
sudah bilang padanya. Dadaku sesak karena tidak yakin apa yang akan terjadi
selanjutnya.
H-1 acara Pensi. Siapa sangka Farris
paginya sudah ada di depan kelasku? Berpikir tidak ada hubungannya denganku,
aku langsung masuk kelas. Namun, Farris memanggilku.
“Ra, ada waktu bentar?” tanyanya. Di
tangannya, sepucuk curahan hatiku. Aku duduk di bangku depan kelasku, diikuti
Farris.
“Gua udah baca kok. Makasih lu udah
sebegininya sama gua. Gua…ngerasa kita harus ngobrol lama. Banyak yang harus
gua sampein. Pulang rapat bisa?” tanya Farris dengan ekspresi datar.
“Iya, bisa kok” jawabku seadanya.
“Oke, sampai ketemu nanti” Farris
langsung kembali ke kelasnya. Aku sungguh tidak tenang setelahnya.
Dan…hari ini seolah berjalan terlalu
cepat. Semua sibuk dengan dekorasi aula dan tugas lainnya. Saat ini sudah pukul
7 malam. Tugasku sudah selesai dari tadi. Tapi berhubung aku janji dengan
Farris dan dia masih tugas untuk check sound, mau tidak mau aku menunggunya.
Perutku terasa lapar, karena ini memang jam makan malam.
“Sendirian
aja, neng” ucap seseorang membuatku kaget. Oh, ternyata Ari.
“Elu,
Ri, gua kira siapa. Ada apa, Ri?” tanyaku.
“Lagi
nungguin Farris, ya? Hehehe, mau ke mana, sih?” Ari tahu dari mana? Berpikir, Ra,
berpikir. Oya, kan Ari teman dekat Farris di kelas 11.
“Hehehe
ke mana atuh ya… Ada yang harus diobrolin aja, Ri” jawabku sambil tersenyum.
Ari tertawa kecil mendengarnya.
“Lu
tau, gak? Yang jadiin lu co kan Farris. Awalnya gua milih dia, tapi dia minta
lu aja yang jadi co. Sejujurnya, gua agak ragu sih sama lu, tapi Farris cuma
nyuruh gua liat hasil kerjanya. And congratulations for your team! You did it
well” ujar Ari sambil tepuk tangan sendiri di depan wajahku.
“Ah,
ngibul aja lu. Lu cuma nyoba-nyoba kan milih gua jadi co hahaha”
“Kalo
bukan Farris yang minta, gua gak akan jadiin lu co, Ra”
“Kenapa
dia ngelakuin itu, Ri? Kenapa gua?” tanyaku penasaran.
“Kenapa
gak tanya nanti pas ngobrol?” Ari mengedipkan sebelah matanya. “Gua ke aula
dulu ya, mau liat proggressnya. Bye” Ari langsung pergi meninggalkanku. Aku
tidak akan lupa menanyakannya nanti.
Akhirnya, Farris selesai juga. Setelah ada
perbincangan sedikit tentang dimana-kita-akan-bicara, akhirnya diputuskan di
tempat makan di jalan pulang ke rumahku. Aku sudah 17 tahun dan punya SIM, jadi
aku mengendarai motor. Farris? Sejak kelas 10 dia sudah rutin bawa motor. Dan
terjadilah iring-iringan motor. Sesampainya di tempat makan dan memesan
makanan, kami memulai pembicaraan.
“Well, sekarang saatnya kita
ngobrol. Gua pengen meluruskan kesalahpahaman kita, Ra. Gua sangat berterima
kasih sama lu karena masih care sama gua. Gua… apa ya? Hehehe” Farris malah
tertawa sendiri. Aku bingung melihatnya seperti itu. “Duh, gua jadi malu-malu
sendiri ngomongnya. Berasa kayak pas nembak lu aja nih haha”. Aku ikut tertawa
mendengarnya. Jadi, inilah sebenarnya kami, tidak bisa bicara serius. Perlahan,
aku menikmati pembicaraan ini.
“Gua jadi keinget pas lu nembak gua
tengah lapangan depan anak passus hahaha” ucapku santai. Diiringi tawa kami,
semua begitu lucu dan konyol. Sekaligus menjadi kenangan yang tidak bisa ku
lupakan.
“Hahaha gua ngerasa konyol banget
pas itu. Tapi gua gak nyesel kok” kata Farris sambil tersenyum. Aku menatapnya
polos. “Ra, bukan berarti gua udah gak ada rasa sama lu. Entah kenapa, gua
ngerasa kalo gua masih sangat peduli sama keadaan lu. Meskipun gua jarang
banget nunjukkinnya ke lu” Farris menghela napas sejenak. “Umur kita sekarang
berapa, Ra?”
“17 menuju 18. Kenapa?” Aku bingung,
apa hubungannya dengan umur?
“Gua pengen nanti aja gua nunjukkin
kepedulian gua sama lu. Sekarang gua gak punya apa-apa buat dibanggain. Gua
masih harus ngejar cita-cita gua. Lu juga, kan? Gua gak menjanjikannya sama lu.
Ini di luar kekuasaan gua, Ra. Kalo kita udah sukses nanti, kita bakal nemuin
orang yang terbaik buat kita kok. Lu percaya itu, kan?” Farris tersenyum.
“Iya, gua percaya. Gua juga punya
pikiran itu kok, Ris. Bukan buat nunggu lu, tapi buat ngeraih cita-cita gua.
Kalau emang ditakdirkannya kita ketemu juga pasti ketemu, kan? I believe on
that” ujarku yakin.
“Nah gitu. Ini baru Serra yang gua
sayang… eh, kenal maksudnya” kata Farris bercanda. “Kita jalanin aja yang
seharusnya dijalanin, kita perjuangin apa yang seharusnya diperjuangin. Ini
bukan saatnya kita main-main sama perasaan kita. Simpen aja dulu buat orang
yang tepat nanti” Aku mengangguk-angguk setuju. Tiba-tiba aku teringat
obrolanku dengan Ari tadi saat menunggu Farris.
“Ris, gua mau nanya dong” ucapku.
Farris hanya menoleh dan menunggu ditanya. “Kenapa lu ngusulin gua yang jadi co
ke Ari?”
“Ari emang gak bisa ngejaga rahasia
orang ya…” Farris menggeleng-gelengkan kepalanya. Ngomong-ngomong, rambut
Farris udah gondrong…
“Emang itu rahasia?” tanyaku tanpa
berpikir.
“Enggak sih, cuma gua gak nyangka
aja dia udah ngasih tau lu secepat ini. Yaa, alasan utamanya sih karena gua
pengen lu sms gua meskipun itu jarkoman dan juga pengen mandangin lu pas lagi
ngomong di depan bidang dokumentasi ataupun depan kelas kayak kemaren. Tapi
alasan buat ngeyakinin Ari, karena lu emang punya jiwa ngatur kok hahaha. Lu
jago organisasi” Farris menjelaskan dengan sangat lempeng. Sukses membuat
membuat wajahku memerah terutama di bagian ‘memandang’.
“Oh…jadi gitu yaa… Terus kalau yang
pas gua gak sengaja kekirim itu…lu marah sama gua, Ris?” tanyaku penasaran.
“Ngga. Gua senyum-senyum sendiri kok
pas baca sms itu. Tapi gua sebisa mungkin nahan buat sms ‘iya gua juga’ ke lu.
Jadilah gua gak bales. Terus besoknya, karena gua terlalu bingung harus bilang
apa. Tuh, kan, sekarang malah gua beberin sendiri ke lu, hahaha. Gua lagi belajar
nahan diri, Ra. Jadi, lu bisa lakuin hal yang sama, kan?” Farris kembali
menjelaskan dengan kalem. Tuhan…matanya… Aku mengangguk mantap. Tentu saja aku
harus bisa.
“Yaudah, lega rasanya udah ngobrol
begini. Yuk, gua anter pulang. Iring-iringan aja kayak tadi, hehehe” kata
Farris tersenyum sangat-manis-sekali.
“Lu gak cape apa? Besok kan harus
dateng pagi” Kalau dia pulang kemaleman, kena angin malam, terus capek, sakit,
dan…
“Buat lu apa sih, Ra, yang ngga?”
Farris tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. Oh my God, aku jadi tidak bisa
berpikir untuk memberikan penolakan apapun. Aku yakin wajahku sudah seperti
udang rebus. Aku akan selalu ingat malam ini.
Hari-H. Hari ini akhirnya datang
juga. Aku dan teman-teman sibuk jeprat jepret sana sini untuk memberikan
kenangan Pensi lewat foto dan video. Saat ini aku sedang standby video. Sekolah
kami berhasil mengundang SO7 sebagai guest star dan saat ini Om Duta tengah
bernyanyi lagu Itu Aku. Aku melihat Farris berjalan ke arahku. Tidak lagi
mengabaikannya, aku tersenyum.
“Ra, berhubung gua gak bisa nyanyi,
lagu ini buat lu ya. Oya, nanti ada film pendek, lu tonton ya. Itu juga buat
lu” Farris berbisik di telingaku, tersenyum, lalu kembali bekerja. Aku jadi
terdiam mendengarkan alunan lagu sambil senyum-senyum sendiri. Farris selalu
punya cara membuat aku mengapung seperti ini. Terasa cepat sekali lagu itu
selesai mengalun. Setelahnya, diputar film pendek buatan Farris dan kawan-kawan.
Mengingat Farris bilang film itu buatku, aku jadi menyimak dengan detail setiap
dialog yang diutarakan. Banyak sekali rasanya yang Farris sampaikan di sana.
Terutama pesan mengenai ‘saling menjaga hati’. Manis sekali Farris melakukan
semua ini. Tak kusangka, orangnya sudah ada di sebelahku.
“Serra,” Farris tersenyum. “Sewindu
lagi, ya” Membuatku ikut tersenyum.
Cerpen lanjutan dari 'Aku?'
Comments
Post a Comment